• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Privacy Policy
Jumat, Juli 31, 2026
Harian Mobile
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Jateng
  • Advertorial
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Kriminal
  • Loker
  • Opini
  • Viral
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Jateng
  • Advertorial
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Kriminal
  • Loker
  • Opini
  • Viral
No Result
View All Result
Harian Mobile
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Jateng
  • Advertorial
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Kriminal
  • Loker
  • Opini
  • Viral
Home Nasional

CESS Soroti Tantangan Program B50, Pasokan Bahan Baku Biodiesel Dinilai Jadi Kunci Keberhasilan

Redaksi Harian Mobille by Redaksi Harian Mobille
2 minggu ago
in Nasional
CESS Soroti Tantangan Program B50, Pasokan Bahan Baku Biodiesel Dinilai Jadi Kunci Keberhasilan

CESS Soroti Tantangan Program B50, Pasokan Bahan Baku Biodiesel Dinilai Jadi Kunci Keberhasilan

0
SHARES
0
VIEWS

JAKARTA – Rencana pemerintah meningkatkan mandatori biodiesel menjadi B50 dinilai sebagai langkah strategis untuk memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak (BBM). Namun, di balik optimisme tersebut, terdapat tantangan besar yang harus segera diantisipasi, terutama terkait keberlanjutan pasokan bahan baku biodiesel dan sistem distribusinya.

Direktur Eksekutif Center for Energy Security Studies (CESS), Ali Ahmudi Achyak, mengatakan tantangan implementasi B50 saat ini tidak lagi terletak pada proses pencampuran (blending) biodiesel dengan solar. Menurutnya, Indonesia telah memiliki pengalaman dan infrastruktur yang cukup matang setelah menjalankan program B20, B30, hingga B40 selama beberapa tahun terakhir.

“Ke depan tantangan terbesar bukan lagi pada pencampuran B50, melainkan bagaimana menjamin pasokan biodiesel, memperkuat distribusi, mengatur mekanisme pengadaan, serta menjaga kualitas produk di seluruh rantai pasok,” ujar Ali dalam keterangannya di Jakarta, Senin.

Ali menjelaskan, peningkatan kadar biodiesel dari B40 menjadi B50 tidak hanya berarti penambahan campuran sebesar 10 persen. Dari sisi kebutuhan energi nasional, kebijakan tersebut diperkirakan mampu menekan konsumsi solar berbasis fosil dalam jumlah signifikan sehingga berpotensi mengurangi impor BBM yang selama ini masih menjadi beban negara.

Menurutnya, pengalaman Indonesia dalam mengembangkan mandatori biodiesel menjadi modal penting untuk melangkah ke tahap berikutnya. Berdasarkan hasil pemantauan CESS di sejumlah terminal BBM dan fasilitas produksi biodiesel, infrastruktur pencampuran dinilai telah siap mendukung implementasi B50.

BeritaTerkait

INSA dan Iperindo Minta Penguatan Industri Galangan Kapal Demi Kemandirian Maritim Indonesia

Pemprov DKI Perluas Program Beasiswa, Kini Mahasiswa S2 dan S3 Ikut Dapat Kesempatan

Sopir Diduga Main Ponsel, Truk Pengangkut Alat Berat Tersangkut di JPO Tendean

Meski demikian, kesiapan fasilitas pencampuran saja dinilai belum cukup. Ali menekankan bahwa keberhasilan program sangat bergantung pada kemampuan pemerintah menjaga ketersediaan bahan baku utama maupun bahan pendukung yang dibutuhkan dalam proses produksi biodiesel.

Selain minyak sawit sebagai bahan baku utama, industri biodiesel juga memerlukan metanol dan berbagai bahan kimia lainnya agar proses produksi berjalan optimal. Karena itu, pemerintah diminta memastikan pasokan bahan-bahan tersebut tetap tersedia dalam jumlah yang memadai.

Ali juga menyoroti kondisi industri biodiesel nasional yang saat ini telah beroperasi dengan tingkat utilisasi di atas 80 persen. Tingginya tingkat pemanfaatan kapasitas pabrik menunjukkan ruang peningkatan produksi semakin terbatas apabila tidak dibarengi dengan pembangunan fasilitas baru.

Ia menilai pemerintah perlu mulai merancang penambahan kapasitas produksi maupun melakukan pengaturan ulang alokasi produksi agar kebutuhan biodiesel B50 dapat dipenuhi secara berkelanjutan.

Tak hanya itu, aspek distribusi juga menjadi perhatian. Sistem logistik yang efisien dinilai penting untuk memastikan biodiesel dapat tersalurkan ke berbagai daerah tanpa meningkatkan biaya distribusi maupun menurunkan kualitas produk yang diterima konsumen.

“Jika dapat dikelola dengan baik, maka B50 akan menjadi fondasi penting dalam strategi diversifikasi energi nasional menuju kemandirian energi,” kata Ali.

Sementara itu, pemerintah mulai menyiapkan langkah konkret untuk mendukung kebutuhan bahan baku biodiesel. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan pemerintah akan membangun industri metanol di Jawa Timur dan Kalimantan Timur.

Menurut Bahlil, peletakan batu pertama pembangunan pabrik metanol di Bojonegoro, Jawa Timur, dijadwalkan berlangsung pada Juli 2026. Pabrik tersebut akan memanfaatkan gas sebagai bahan baku utama dalam proses produksinya.

Selain itu, pemerintah juga berencana membangun fasilitas produksi metanol di Kalimantan Timur yang menggunakan batu bara sebagai bahan baku. Kehadiran dua industri tersebut diharapkan mampu mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor metanol sekaligus memperkuat rantai pasok biodiesel nasional.

Dengan dukungan pasokan bahan baku yang memadai, kapasitas produksi yang terus ditingkatkan, serta distribusi yang efisien, implementasi program B50 diharapkan mampu menjadi tonggak penting dalam mewujudkan ketahanan energi nasional. Kebijakan ini juga diyakini dapat meningkatkan nilai tambah industri sawit, menghemat devisa negara, serta mempercepat transisi menuju bauran energi yang lebih berkelanjutan.

Tags: b50bahlilminyak
Redaksi Harian Mobille

Redaksi Harian Mobille

Follow juga media sosial harian mobile untuk mendepakan informasi ter update dan terpercaya

BeritaTerkait

INSA dan Iperindo Minta Penguatan Industri Galangan Kapal Demi Kemandirian Maritim Indonesia

INSA dan Iperindo Minta Penguatan Industri Galangan Kapal Demi Kemandirian Maritim Indonesia

Juli 16, 2026
Pemprov DKI Perluas Program Beasiswa, Kini Mahasiswa S2 dan S3 Ikut Dapat Kesempatan

Pemprov DKI Perluas Program Beasiswa, Kini Mahasiswa S2 dan S3 Ikut Dapat Kesempatan

Juli 16, 2026
Sopir Diduga Main Ponsel, Truk Pengangkut Alat Berat Tersangkut di JPO Tendean

Sopir Diduga Main Ponsel, Truk Pengangkut Alat Berat Tersangkut di JPO Tendean

Juli 14, 2026
Load More
Next Post
Lima Jam Jelang Semifinal Piala Dunia 2026, Suporter Argentina Padati Area Stadion Mercedes-Benz

Lima Jam Jelang Semifinal Piala Dunia 2026, Suporter Argentina Padati Area Stadion Mercedes-Benz

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BeritaPopuler

  • Mitra MBG Keluhkan Insentif Tak Cair Saat Libur Sekolah, BGN: Demi Efisiensi Anggaran

    Mitra MBG Keluhkan Insentif Tak Cair Saat Libur Sekolah, BGN: Demi Efisiensi Anggaran

    2424 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Jawa Barat Resmi Tetapkan Status Siaga Darurat Kekeringan, Antisipasi Dampak Musim Kemarau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Presiden Prabowo Evaluasi Program MBG, Penerima Akan Diprioritaskan untuk Kelompok Rentan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Meksiko Jadi Tim Pertama Lolos ke 32 Besar Piala Dunia 2026, Tekuk Korea Selatan 1-0

    745 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Strategi Manajemen Risiko agar Trading Forex Lebih Konsisten

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Haji 2026 Berjalan Lancar, Kementerian Haji Buka Ruang Evaluasi untuk Penyempurnaan Layanan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Privacy Policy

Copyright ©2026 Harian Mobile - All rights reserved

No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Jateng
  • Advertorial
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Kriminal
  • Loker
  • Opini
  • Viral

Copyright ©2026 Harian Mobile - All rights reserved